Jakarta Twitter User Group

  • Archive
  • RSS
  • Mau tanya sesuatu ke JTUG?
  • Mau ngepost di blog JTUG?
Honestly gue ngga tau ini ide brilian siapa untuk bikin layanan nilai tambah dari Telkomsel seperti ini tapi yang jelas ada kesalahan mendasar dari persepsi mereka dan banyak orang tentang bahasa alay.
Ini hasil tweet kemarin malam setelah dapet link ke yang di atas dari @bocahmiring. Entah mau gue blog di mana, kayanya berhubung ini hasil tweet mending di sini aja.
I think there’s a fundamental misunderstanding by most people about alay texting. It’s not just inserting numbers in place of alphabets. When you see alay texting, most of the time you don’t see numbers in place of letters, you see a “creative license” in spelling.
Proper example of alay texting. Note the liberal spelling being used here: http://twitter.com/gwyndaaa/status/4679716267098112
Or try this one. Note the lack of numbers: http://twitter.com/miyanka/status/4533646044172288
Some people compare alay with the prokem language of the 80s but there’s a significant difference. In alay the words are the same but the spellings are different and irregular. You rarely find the same word being spelt the same way. In prokem, the words and object names are changed and there’s an agreement among prokem speakers to recognize the same replacement words. 
Both however express the need of each generation to find some sort of bond among themselves and to have a shared identity. Prokem was spoken mostly by those born in the late ’60s and ’70s, alay is used mostly by those born in the late ’80s and ’90s. Correct me if I’m wrong, but there doesn’t seem to be a similar linguistic trait that came from those born between those periods. Anyone?
If you’ve ever heard people say bo’il (mobil), ngokar (ngerokok), spokat (sepatu), that’s prokem. For better examples, ask @pinot.
-@amasna
View Separately

Honestly gue ngga tau ini ide brilian siapa untuk bikin layanan nilai tambah dari Telkomsel seperti ini tapi yang jelas ada kesalahan mendasar dari persepsi mereka dan banyak orang tentang bahasa alay.

Ini hasil tweet kemarin malam setelah dapet link ke yang di atas dari @bocahmiring. Entah mau gue blog di mana, kayanya berhubung ini hasil tweet mending di sini aja.

I think there’s a fundamental misunderstanding by most people about alay texting. It’s not just inserting numbers in place of alphabets. When you see alay texting, most of the time you don’t see numbers in place of letters, you see a “creative license” in spelling.

Proper example of alay texting. Note the liberal spelling being used here: http://twitter.com/gwyndaaa/status/4679716267098112

Or try this one. Note the lack of numbers: http://twitter.com/miyanka/status/4533646044172288

Some people compare alay with the prokem language of the 80s but there’s a significant difference. In alay the words are the same but the spellings are different and irregular. You rarely find the same word being spelt the same way. In prokem, the words and object names are changed and there’s an agreement among prokem speakers to recognize the same replacement words. 

Both however express the need of each generation to find some sort of bond among themselves and to have a shared identity. Prokem was spoken mostly by those born in the late ’60s and ’70s, alay is used mostly by those born in the late ’80s and ’90s. Correct me if I’m wrong, but there doesn’t seem to be a similar linguistic trait that came from those born between those periods. Anyone?

If you’ve ever heard people say bo’il (mobil), ngokar (ngerokok), spokat (sepatu), that’s prokem. For better examples, ask @pinot.

-@amasna

Source: telkomsel.com

    • #telkomsel
    • #alay
    • #prokem
    • #bahasa gaul
    • #linguistics
    • #texting
    • #sms
    • #wtf
  • 1 year ago
  • 2
  • Permalink
  • Share
    Tweet

[Netiquette] Sumpah saya tidak bisa menganggap anda serius kalau anda berbicara kepada saya dengan bahasa alay ataupun menggunakan metode RT untuk reply

Oleh: @kapkap

Panjang judulnya? Yagapapa lah ya :D Entry perdana ini ceritanya.

Pertama-tama saya ingin menekankan satu hal bahwa keberadaan para alay di muka bumi ini halal hukumnya. Ya boleh lah ya, namanya juga hak hidup dan hak untuk menjadi labil sekali seumur hidup (atau mungkin berkali-kali? Terserah deh, hehe.) Kalau sekarang nyebutnya ‘alay’, kalau dulu mungkin disebutnya ‘abegeh’, ‘abegong’, ‘lagi puber’ atau ‘labil’. 

Tapi mbok ya kalau mau berbicara dengan bahasa alay itu liat-liat siapa lawan bicaranya. Bahasa marketingnya, liat target market-nya. Mau jualan produk buat alay pake bahasa alay sih sah-sah aja. ‘Eeewh, liat dech„, ini qweren bngtz looowwwhhh„,!!!!!’ masih gapapa lah kalo emang mau jualan ke anak-anak, well, alay. Tapi kalo pake bahasa gitu ke orang-orang yang jelas-jelas pake bahasa biasa sehari-hari (dan cenderung antipati kalo di-looowwwccchhhhh-kan) bisa kena gampar itu ceritanya.

Jadi sebenernya tips dan trik netiquette dari saya itu hanya ada dua. Bahkan sebenernya udah disimpulkan dengan cukup jelas di judul yang saya tulis di atas (jadi kalau begitu kenapa anda masih membaca sampai sejauh ini? Anda nge-fans sama saya? Anda merasa tulisan saya menarik? Emakasih lho… *digeplak*)

Saya tidak bisa, dan rasanya juga tidak mungkin bisa, menganggap anda secara serius kalau anda:

1. Berbicara/menulis bahasa alay ke saya.

Misalnya anda punya pacar. Dan anda melakukan suatu kesalahan yang membuat pacar anda tersinggung, katakanlah, anda telat 3 jam menjemput dia, padahal pacar anda sudah menunggu anda di halte bus dan kehujanan. Tiba-tiba besoknya anda menerima pesan di wall Facebook anda bertuliskan:

“aq mrh bngtz sm km!!!… km mank gag ngerti perasaanq lagiw„,!!! taw gak rasax berdiri ujan2an?!?!?!?!????????!?!? hufffffftttttttttTtttt…”

Mungkin, MUNGKIN LHO YA, karena itu dari pacar anda, anda bisa menanggapinya sedikit lebih serius. Tapi kalau buat saya, itu sepertinya pacar saya muarah sekali sama saya sampe menghukum saya melakukan senam mulut. Pikiran pertama membaca itu kemungkinan besar adalah “eanjrit, ini begimana bacanya nih?”

Dan apabila anda terbiasa membaca tulisan normal dan menulis normal, saya sendiri agak heran bila anda bisa mempunyai pacar yang menulis dengan bahasa alay. Dan marah-marah kepada anda di wall Facebook.

Jadi kalau anda ingin bisa dianggap lebih serius dalam mengungkapkan isi pikiran dan perasaan anda, ada baiknya anda mulai mempelajari kembali cara menulis yang baik dan benar. Tidak ada ruginya, beneran deh. Tombol Shift, Caps Lock, spasi dan tanda baca itu diletakkan di keyboard karena ada gunanya. Bukan karena untuk pajangan saja.

Dan kalau ada kasus berantem dengan pacar, mending dibicarakan secara langsung. Jangan ditulis di wall Facebook. Nggak enak mengumbar urusan pribadi. Just saying.

2. Membahas sebuah isu penting di Twitter, tapi alih-alih menggunakan sistem Reply (@) yang sewajarnya digunakan, anda malah menggunakan ReTweet untuk me-reply.

Dan itu sumpah bikin saya sebal, sewot dan sama sekali tidak berminat untuk mengobrol dengan anda. Jangankan isu penting. Mau ngobrolin bayi panda kalau dijawab dengan RT itu rasanya mengesalkan. Sudah jelas saya tahu bahwa untuk menjawab tweet itu menggunakan sistem reply (@) namun kenapa saya harus mengorbankan prinsip saya dan mengikuti jalan setan dengan menjadi RT-abuser?

Misalnya:

Saya: Baru liat video di Youtube! Bayi pandanya lucu sekaliii!

Sapagituh: Emang lucu? Mana? RT @saya: Baru liat video di Youtube! Bayi pandanya lucu sekaliii!

Saya: @sapagituh kalo bales tweet pake @ dong

Sapagituh: Bukannya RT itu ReplyTo? RT @saya @sapagituh kalo bales tweet pake @ dong

Rasanya seperti ngomong sama burung beo. Bahkan kalau kita ngomong sama burung beo juga burung beo ga akan mengulang-ngulang ucapan kita kan?

Saya: Beo, bilang ‘Halo!’

Beo: ‘Halo!’

Burung beo tidak akan bilang “Beo, bilang ‘Halo!’ Halo!’ kan? Dan kenapa ini jadi ngomongin burung beo? Ini pasti pengalihan isu! Kita harus tetap fokus pada Anang - Syahrini! 

Pertama, sistem membalas tweet dengan RT itu memakan banyak karakter. Titik. Twitter dibatasi hanya 140 karakter, dan membalas tweet dengan RT mengorbankan 140 karakter yang berharga itu. JANGAN RAMPOK 140 KARAKTERKU!

Twitlonger? Mungkin sudah ada boneka voodoo di pojokan dengan nama anda dan paku menancap. Hindari sebisa mungkin. Beneran. Tolong deh. Plis seplis-plisnya. Namaste.

Kedua, itu jelas-jelas bukan sistem reply. Ini bukan masalah polisi Twitter atau apa. Ini masalah abusing usage. Misalkan anda mempunyai satu aplikasi atau sistem yang sangat anda banggakan dan selalu anda gunakan secara semestinya, tiba-tiba ada orang yang menggunakannya tidak dengan semestinya. Nah, bagaimana perasaan anda? Minimal anda akan menegurnya kan? Sistem di Twitter sudah dibangun dan dipikirkan penggunaannya secara masak oleh tim developernya. Tolong hargai mereka. Jangan jadi orang dungu yang keras kepala.

Anda masih baru di Twitter dan ingin mempelajari cara penggunaannya? Bisa tanya kepada teman-teman yang lain. Tidak usah merasa malu, sungkan atau takut dikatain “n00b.” Ya okelah, mungkin anda akan dikatain “n00b”, tapi besar kemungkinan anda akan dikatai “n00b! Bodoh! Ga tau malu!” kalau anda nekat menggunakan sistem RT untuk reply. Kalau anda bertanya “cara menjawab tweet di Twitter gimana sih? Pake @ ya? Kalo RT buat apa?” paling orang hanya komentar, “oh, baru make Twitter ya?” dan selebihnya mereka dengan senang hati akan membantu anda. Dunia Internet tidak se-apatis yang anda kira lho.

Nah, begitulah saran-saran dari saya. Boleh diikuti, boleh tidak. Tapi jangan marah-marah sama saya kalau anda tetap nekat menggunakan tulisan alay dan RT untuk reply saat berkomunikasi dengan saya dan tetap saya cuekin. At least I made my point here :D

    • #netiquette
    • #twitter
    • #alay
    • #RT NOT FOR REPLY
    • #beo
    • #tetap fokus pada Anang-Syahrini!
  • 1 year ago
  • 1
  • Permalink
  • Share
    Tweet

About

Avatar Our little cafe in the corner has now become a mall. We kind of miss the old little cafe, so here's something we put together to make it feel a bit more like home.

Pages

  • Who we are
  • Twitter in 1945
  • Komik Si Jetug

Twitter

loading tweets…

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Mau tanya sesuatu ke JTUG?
  • Mau ngepost di blog JTUG?
  • Mobile

All rights reserved by original authors. Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr